shen(diary)

Early Bird Gets The Worm

Dari kecil, saya dididik oleh Mama Papa saya untuk jadi anak pagi, bangun pagi sekitar subuh dan tidur early sekitar jam 9. Mereka selalu punya prinsip “Early bird gets the worm”, dengan bangun lebih pagi kita bisa subuhan on time, bisa punya waktu siap2 lebih lama (Mama Papa saya didikan tentara soalnya jadi semua serba disiplin hehe), bisa sarapan bareng di meja makan. Jadilah sampai gede saya jadi anak pagi, waktu jaman kuliah dulu ngerjain tugas, atau lembur2 masa kelam dulu sampai jam 3 pagi, saya paling lemah harus di dopping dulu pake secangkir kopi susu hehe. Tapi pas sudah besar gini baru paham juga memang bagus lifestyle seperti itu, karena organ2 vital kita itu memang butuh kita istirahat malam yg cukup dan biasanya less stress.

Nah, “secara gak sadar” ternyata saya (dan suami pastinya) mendidik Inaya seperti itu. Apalagi setelah masuk 6 bulan dimana Inaya mulai fase MPASI, saya membiasakan Inaya untuk bangun pagi. Sebenarnya sih mungkin ini keegoisan mamanya yang pengen bisa mandiin dan nyuapin Inaya tiap pagi sebelum berangkat ke kantor hehe. Kadang saya berpikir, kejam gak ya saya, egois gak ya saya.. tapi setelah 8 bulan berjalan (Inaya sekarang udah 14 bulan) dan belajar2 parenting online dan konsultasi ke DSA, justru memang lebih banyak manfaat nya dibanding mudharatnya. Alhamdulillah πŸ™‚

Jadwal pagi Inaya kurang lebih sbb :

  1. Nenen pagi 04.00,
  2. Bangun pagi 04.30 – 05.00,
  3. Main sama mama 05.00- 05.45 (sembari si mama dan mbak kolaborasi masak makanan Inaya),
  4. Mulai sarapan pagi 05.45 (Kalau lg lahap 20-30 menit selesai, tapi kalau lagi GTM bisa 1 jam huhu),
  5. Mandi pagi 06.45- 07.00 ,
  6. Main sama ayah 07.00 – 07.20,
  7. 07.30 Ayah mama berangkat kantor, Inaya salim dan dadah2 (Alhamdulillah kami tinggal di Bandung jadi masih bisa berangkat jam segini)
  8. Untuk tidur malam sendiri biasanya Inaya sudah bobo jam 7.30-8pm

Kenapa mamanya ngotot mau mandiin dan nyuapin sarapan Inaya sendiri? Karena itulah bonding and quality time sama Inaya yang sayang banget dilewatkan. Dengan mandiin anak kita bisa periksa badannya juga, kali2 ada memar atau bekas nyamuk atau bekas garukan yang tersembunyi jadi bisa diobatin. Lagian waktu mandi adalah salah satu waktu main terbaik anak, kayanya semua anak happy ketemu air hihi. Dengan nyuapin dan masakin anak kita tahu apa yang dia suka dan gak suka, gizi yang masuk ke anak kita, dan susahnya nyuapin atau ngebiasain anak BLW dengan benar πŸ˜€ Ini sih highlightnya.. drama masa kini : anak susah makan haha. Karena saya juga kerja, siang dan sore kan si mbak yang nyuapin, moso’ pagi juga si mbak, saya gak rela hehe gitu sih sebenarnya alasannya.

Tapi ternyata ada manfaat baiknya yang tersembunyi lho :

  • Bermain dengan anak di pagi hari itu bagus karena mereka masih fresh, jadi edukasi yg diselipkan bisa gampang masuk.
  • Habit early riser ini terbawa sampai besar, jadi nanti pas anak2 sudah sekolah gak drama pagi ngebanguninnya.
  • Perkembangan otak anak itu malam hari ketika dia tidur, jadi jangan sampai membiasakan anak untuk begadangan.
  • Buat ibu bekerja, bonding dan quality time dgn anak harus dijaga, jangan sampai berangkat anak masih bobo dan pulang anak juga udah bobo.
  • Beberapa link bagus buat belajar : dr Tiwi

 

Sekian pengalaman saya,

Happy motherhood! πŸ™‚

Regards, Shendiary

 

 

 

 

Bersyukur

There’s always something to be grateful for everyday.. Dari kecil sampai sekarang, mama saya selalu mengingatkan bahwa saya harus terus bersyukur sm apa yang saya punya. Kata mama, jangan terlalu lihat ke atas, capek kita ‘ndanga’, coba deh sering2 lihat ke bawah masih banyak yg tidak seberuntung kamu, jadi kamu tetap bersyukur.

Bener banget. Belakangan ini saya ngerasain hal itu banget banget.

Contohnya seminggu kmrn ini sy ditugaskan untuk ikut training management dev program, yah intinya managerial dan leadership skill. Ikut training sih saya seneng bgt krn memang dasarnya saya seneng belajar (hasrat sekolah lg memang sbnrnya pengen hehe), tapi ini harus nginep di training center pdhl sama2 di Bandung. Jadilah galau tidak keruan krn harus ninggalin Inaya. (Dan Alhamdulillah survived, tributes to my lovely supporting system : mas suami, mama, dan mbak). 

Selama training saya ketemu dgn rekan2 di division yg berbeda.. beda background, beda suku, beda kerjaan dan tantangan, beda umur. Tapi ini yang bikin diskusi2 selama training makin hidup. Saya jd makin merasa ‘kecil’ krn sesungguhnya dunia kantor tak sesempit yg selama ini saya hadapi. Bersyukur banget bs ketemu mereka, saya bisa belajar hal2 baru, mengerti sesuatu dr sudut pandang yang berbeda.

Di sisi lain, saya ketemu dgn emak emak muda lain yg jauh lebih strong dari saya. Mereka tinggal beda kota dgn anaknya yg dijaga sm neneknya, pulang sekian minggu sekali, kirim ASI, etc. Nah apalah saya ini 6 hari ga ketemu aja udah kaya dunia runtuh. Saya juga harus belajar strong kaya mereka πŸ˜‰ mendengar cerita ini saya juga bersyukur banget atas nikmat Allah, jalan Allah sehingga saya bisa berkumpul dgn mas suami dan Inaya. Gak pernah saya menyesal resign, ikut pindah ke Bandung setelah menikah. Semua ada rezekinya πŸ™‚

Apa yang kita kira baik, mungkin belum tentu baik di mata Allah. Dan apa yang kita benci mungkin itu yang terbaik menurut Allah. Jadi bersyukurlah atas kita dan apa yang kita punya skrg, karena itu pasti versi yg terbaik. Amien πŸ™‚

Cheers,

Shendiary

Motherhood and Judgement

Vaginal Birth vs Sectio Caesar. Breastmilk vs Sufor. Working Mom vs Stay at Home Mom. Spoon Feeding vs Baby Led Weaning. Etc etc…..

Gosh, I don’t know why but seems motherhood invites judgement. Whether it’s about how you just gave birth, what you’re feeding the baby,or how you and husband plan on raising your kids, there will be someone judging.

Mungkin bertambahnya pengetahuan di dunia kedokteran, ilmu-ilmu psikologi anak, kelas-kelas motherhood, dan posting-postingan media sosial membuat ibu-ibu (seperti saya salah satunya) jadi makin semangat belajar yg terbaik untuk anak, tapi sisi negatifnya jadi men-judge ibu lain yang tidak sepaham dengan kita. But hey, sesuatu yang ‘works’ or ‘fit’ di kita belum tentu cocok di mereka kan? πŸ™‚ Dan pastinya ibu-ibu tsb punya alasan sendiri memilih sesuatu untuk keluarganya, dan pastinya pilihan yang terbaik menurut mereka. Atau mungkin memang ibu-ibu itu super sensitif ya saking perasa-nya, jadi mungkin komen dikit dari orang aja sudah dianggep judgement (ini yang suami saya suka bilang ke saya sih haha).

And almost of the time, what we judge is that what we have not experienced ourselves. Yang suka sinis kalau melihat anak cranky nangis di mall atau tempat umum biasanya belum punya anak dan ngerasain kalau anaknya lagi tantrum. Yang suka ngejudge ibu rumah tangga belum ngerasain capeknya mengurus anak 24/7. Yang suka ngeduge ibu working mom belum ngerasain susahnya multi tasking dan membagi prioritas. Yang suka ngejudge anak yang tidak ASI = anak sapi, mungkin dia gak tahu kalau ibunya sudah berusaha mati-matian tapi belum dikasih rezeki ASI berlimpah. Atau yang suka ngejudge pasangan yang belum punya anak masih suka ngejar karir jadi menunda dkk, mereka mungkin gak tahu kalau pasangan tsb sudah usaha ini – itu tapi masih belum dikasih rezeki anak.

I think we all agree that being a mother is the most beautiful gift from Allah with a huge responsibility and challenges. Motherhood is hard. And we as a mother need to be tough. Alangkah indahnya jika sesama Ibu saling sharing dan support. Women empowers women. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang suka men-judge tanpa alasan dan semoga kita bisa fokus yang terbaik menurut kita dan keluarga tanpa terusik omongan-omongan yang gak penting πŸ™‚

Kita bisa!

[NB : postingan ini ditulis setelah ditanya “kok baby N kurusan sekarang? sudah gak menyusui lagi mba?”………. Dengan tarik napas dan elus dada, mungkin beliau gak tahu usaha saya menyusui dan pumping dan Alhamdulillah masih cukup untuk bekal baby N. Mungkin beliau gak tahu baby N banyak makannya tapi gak gemuk2, ini mamanya juga bingung πŸ˜€ ]

And.. just let the ball drop

Suasana di kantor lagi kurang kondusif.. Some colleagues has been moved to another division/company, tapi gak ada pengganti, box nya tetap kosong, sementara volume kerjaan tetap banyak. Ketika mulai stress, keinget sama pesan dari boss di kantor lama.. “Sometimes you need to let the ball drop, to get the attention and see the impact” πŸ˜€ Yup.. Kadang kita terlalu sibuk mencoba menahan dan menangkap bola sekuat tenaga, while sebenarnya itu di luar kapasitas kita. Kadang orang lain jadi tidak sadar kalau ada keadaan genting karena kita selalu ‘mengamankan’. So.. sekarang saya mau belajar jujur aja, tetap berusaha sebaik mungkin, tapi gak akan ngoyo.

Because sh** happens, and life goes on! πŸ˜€

#curhatanemak2workingmom

Selamat Lebaran!

Alhamdulillah dikasih Allah kesempatan untuk bertemu lagi dengan hari raya Idul Fitri dengan orang-orang terkasih πŸ™‚

WhatsApp-Image-20160712

Ramadhan dan Lebaran kali ini penuh cerita untuk saya.. Tentunya karena kehadiran si bayi cantik, Inaya, jadi lebih ramai dan riweuh hihi. Ramadhan ini pertama kali saya gak ikutan puasa, sebelumnya pas hamil kuat puasa, tapi kali ini pas menyusui saya ga bisa egois karena ASI-nya jadi sedikit. Jadi sebelum Ramadhan, kegalauan hadir karena saya harus ikut pelatihan Basic Development Program alias pelatihan kedisiplinan militer di Pusat Pendidikannya TNI, yang wajib untuk BUMN. Pelatihan ini 10 hari dan DIKARANTINA alias gak bisa keluar bahkan gak bisa pegang hp. 10 hari gak ketemu Inaya itu bikin super duper sedih banget. Dan setelah pelatihan ini, karena mungkin fisik dan pikiran capek, dan gak latch on langsung, ASI saya jadi sedikit.. Dari awal pelatihan, suami (yang terpaksa jadi kurir ASIP tiap hari) ambil ASIP bisa 8 botol sehari, sampai akhir cuma bisa 3 botol saja yang dibawa pulang.. Makanya tahun ini saya gak puasa dulu agar masih bisa makan minum berusaha mengembalikan supply ASI, Alhamdulillah sekarang supply and demand nya sudah balance lagi, walaupun stock di freezer masih sedikit. Semangat mama Shendiii!

Ramadhan kali ini juga InshaAllah saya mantap untuk berhijab, bertepatan dengan ulang tahun saya ke 27. Doakan semoga selalu istiqomah, amieen..

Lebaran kali ini pertama kali mudik ke Jakarta sudah bawa momongan, jadi lebih seru, lebih riweuh juga bawaannya karena Inaya sudah MPASI jadi bawa blender, perlengkapan makan, snack, dan bahan makanan. Waktu lebaranan di rumah mama, rumah mertua, rumah eyang juga lebih seru ada mainan baru hihi, semuanya rebutan gendong Inaya sampe2 bingung sendiri dan nangis hehe. Solat Ied pertama Inaya Alhamdulillah lancar.. anteng aja duduk sambil mainan dan narik2 mukena Mama, abis itu ngadem di ruangan masjid yang ber-AC sambil nenen πŸ™‚

Lebaran tahun ini juga pertama kali ngerasain ditinggal mbak ART mudik. Kalau untuk kerjaan rumah sih gak terlalu galau ya, karena sebelumnya juga semua saya dan mas kerjakan sendiri, gak perfeksionis juga, sebisanya saja. Tapi ini galau-nya karena saya gak bisa cuti karena kerja di public transport yang pasti lagi ramai2nya waktu mudik Lebaran ini, which means selama si mbak mudik, Inaya di rumah hanya sama Ayahnya saja. Kebayang kasihan Ayah-nya karena Inaya agak picky juga sama orang, gak semudah itu mau digendong, disuapin sama mbak infal atau sama eyangnya.. Tapi ini sudah hari ketiga, and so far we survived! Semangat Ayah, semangat Inayaa.. maafkan Mama harus ngantor T.T

Anyway, Eid Mubarak to all of you πŸ™‚ Semoga ibadah kita diterima Allah dan kembali ke fitrah.. Mohon maaf lahir dan bathin..

Cheers, Shendiary.

 

Finally S1 ASI Ekslusif!

Awal bulan Mei ini Inaya sudah masuk 6 bulan, Alhamdulillah diberi kesehatan danΒ  lulus S1 ASI eksklusif πŸ™‚ Rasanya lega, dengan segala perjuangan kejar-kejaran stok ASIP selama kerja ini berhasil kasih ASIX untuk baby Inaya.. Tapi PR ke depan masih super banyak, semoga Allah memudahkan hingga S2, S3 2 tahun ASIX. Amien.

Beberapa highlight selama perjalanan menyusui 6 bulan ini..

  • Latch-on moments

Ketika Inaya menyusu latch on langsung, saya selalu merasa happy bisa memberikan makanan titipan Allah ini langsung kepadanya. Dengan bunyi ‘glek-glek’ saat menghisap atau senyuman manis setelah kenyang, rasanya gak bisa diungkapkan. This is trully one of most beautiful moments in my life.. hehe. Dan memang saya merasa, semakin banyak Inaya latch-on langsung menyusu pada saya, volume produksi ASI pun meningkat. Kalau teorinya memang karena latch on dan isapan bayi merangsang hormon2 yang ada di aerola payudara Ibu untuk memproduksi ASI lebih banyak.

  • Invest(ASI)

Sebagai working mom, breastpump merupakan satu senjata penting untuk tetap memasok bekal ASIP. Kenapa invest(asi), karena memang breastpump dan kawan-kawannya gak murah dan saya percaya hasilnya pun pasti lebih berkali-kali lipat untuk baby kita πŸ™‚ Saya sendiri memilih menggunakan electric breastpump agar lebih praktis dan gak capek pumping ketika di kantor. Plus minus sih ya, karena electric, kecepatannya konstan dan mungkin gak begitu maksimal saat-akhir payudara mau kosong, jadi tetap harus dibantu ditekan-tekan. Sama gak boleh kelupaan bawa charger juga in case baterainya habis. Tapi saya kebetulan belinya merk Spectra M1 dimana sudah sepaket bisa electric dan manual, so kalau urgent case, tetap bisa pumping pake manual. Nah selain itu, salah satu investasi lainnya adalah kami membeli kulkas 2 pintu agar lebih besar menampung ASIP, lebih lama hingga 2 bulan kalau di dalam freezer dan yang paling penting gak ada bunga es. Jadi menyesal juga kenapa di awal nikah gak pikir panjang, malah beli kulkas 1 pintu.. Lesson learned!

  • Ruang menyusui

Beruntung lah para working mom yang di tempat kerjanya difasilitasi nursing room atau lactation room.. Kantor saya yg sekarang belum ada ruang menyusui khusus 😦 (kantor yang dulu nursery room nya oke banget, tapi waktu itu saya belum nikah jadi gak sempat merasakan haha, gagal move on), sehingga saya biasanya gerilya pumping di ruangan VP yg lagi kosong atau seringnya di masjid. Dan itu ga enak. Privacy yang pasti jauh berkurang, kebersihan jg kurang terjamin, kenyamanan juga begitu. Padahal itu semua sangat mendukung volume ASIP yg dihasilkan juga lho. Tapi ya semua ada hikmahnya.. Semenjak ada kebutuhan pumping, saya jadi hampir tiap hari jamaah-an di masjid dan habis itu pumping disana. Inaya menuntun saya untuk beribadah lebih :’) Sekarang saya sedang mengajukan permohonan lactation room di kantorpusat, karena memang ini ada di UU Ketenagakerjaan dan di Permenkes juga. Semoga cepat terwujud, bisa membantu para busui-busui lain, amien.

  • Support dari sekitar

Salah satu keberhasilan ASIX ya ga lain ga bukan adalah support dari sekitar, baik suami, ortu, mertua, boss, kolega kantor, teman, semuanya.. Sejak hamil, pelan2 saya mengedukasi suami dan mama saya tentang pentingnya ASI, tentang komitmen saya sebisa mungkin memberikan ASI Eksklusif untuk Inaya.. Alhamdulillah mereka mengerti dan sangat mendukung. Kalau saya beli buku atau nonton liputan tentang ASI, pasti sy libatkan, termasuk si mbak ART juga. Contohnya, saya wanti-wanti sejak awal, kalau nanti ASIΒ  sedikit setelah melahirkan jangan langsung diberi sufor (bukan anti sufor ya, tapi saya gak mau menyerah karena saya percaya ASI yg terbaik). Challenge lainnya waktu mertua mau memberikan air putih atau pisang kerok ketika Inaya usia 4 bulan karena dulu si mas aman-aman aja diberikan mpasi usia segitu. Saya dan suami berusaha menjelaskan bahwa Inaya sedang eksklusif diberi ASI dan baru perkenalan makanan di usia 6 bulan sesuai hasil research WHO mengenai kesiapan pencernaan bayi and so on. Ketika baru kembali kerja saya juga langsung menghadap boss untuk meminta izin tiap hari sekitar 30menit utk pumping. Kalau sedang rapat yg kadang waktunya gak jelas kapan selesainya, saya jg selalu bawa tas perlengkapan ASI dan meminta izin untuk pumping jika ada waktu break. Yah intinya jangan malu untuk minta support ke lingkungan sekitar, kadang mereka gak peka atau gak concern tentang menyusui, jadi harus dikasih edukasi dan pengertian juga πŸ™‚

Semoga Allah mencukupkan ASI saya untuk baby Inaya dan semoga solid food experience nya juga lancar.. Mamanya excited banget untuk siap2in dan masakin mpasi hehe.

Salam semangat!

Shendiary

Dear Inaya


Dear Inaya,

Mungkin kamu masih terlalu kecil untuk mengerti betapa besar arti kehadiranmu untuk Ayah dan Mama, masih terlalu polos untuk mengerti betapa berwarnanya hidup kami dengan senyumanmu, betapa bersyukurnya kami dapat memelukmu..

Terima kasih..

Dari kamu, kami belajar tentang mencintai dengan ikhlas, belajar untuk mendengar dan mengerti dengan hati, belajar untuk lebih sabar, belajar untuk lebih bijak menentukan pilihan dan prioritas, belajar untuk selalu berjuang memberikan yang terbaik untukmu, belajar untuk selalu tenang dalam terpaan ombak..

Doa kami selalu terpanjat agar kamu selalu dalam perlindungan-Nya, malaikat kecilku :’)

Setelah Sebulan Back to Work

Buat saya, salah satu highlight menjadi seorang Ibu adalah bagaimana me-manage waktu dengan baik. Mengatur bagaimana urusan di rumah tidak terbengkalai, baby tidak rewel ketika ditinggal, memastikan baby minum dengan cukup dan terurus baik, rapat dan kerja di kantor dengan konsentrasi, dan jangan lupa mengurus suami πŸ˜‰

Minggu kemarin genap sebulan saya mulai masuk kantor lagi setelah maternity leave. Sebulan ini rasanya seru kaya naik roller coaster hehe, namanya juga masih adaptasi dengan role baru sebagai seorang Ibu. Yang paling juggling mungkin mengenai breastfeeding, karena saya berkomitmen berusaha untuk ASI eksklusif untuk baby Inaya. Produksi ASI saya tidak semelimpah Ibu-Ibu lain, stok di kulkas saat ini hanya cukup untuk kira-kira 7 hari minum, oleh karena itu saya harus semangat untuk pumping biar gak kejar-kejaran seperti sekarang ini dan makan sayur, booster, buah untuk memperlancar produksi ASI. Sebulanan ini kalau lagi ideal, di kantor bisa 3x pumping (kalau lagi gak banyak meeting), tapi worst case lagi sibuk hanya bisa 2x pumping.

Schedule-nya kira-kira begini :

  • 00.00 : Nenen langsung.
  • 02.00 : Pumping sesi 1.
  • 03.00 : Nenen langsung.
  • 07.00 : Nenen langsung.
  • 10.00 : Pumping sesi 2- di kantor. *ini yang kalo lagi sibuk sering ter-skip 😦
  • 12.30 : Pumping sesi 3 – di kantor.
  • 16.30 : Pumping sesi 4 – di kantor.
  • 18.30 : Nenen langsung.
  • 20.00 : Nenen langsung.
  • 22.00 : Pumping sesi 5. *ini juga suka ter-skip kalau lagi tepar

Yang jelas harus konsisten. Ya konsisten. Dan gak boleh kebanyakan galau. Kadang pagi-pagi suka merasa sedih harus berangkat ke kantor ninggalin baby Inaya, pengennya peluk-pelukan sambil becanda dan nenangin nangisnya baby Inaya. Di kantor suka minta dikirimin foto sama eyangnya dan monitor minum susunya banyak atau gak. Pumping sambil muterin video saking kangennya.. Ya tapi balik lagi, menjadi working mom adalah pilihan saya. Saya yang merasa lebih produktif ketika bekerja di kantor (gak men-generalisir ya.. banyak Ibu2 lain yang bisa produktif di rumah, makanya saya iri hehe). Saya yang dulu pernah 1,5 bulan bosen banget ketika jobless ketika baru pindah ke Bandung setelah menikah. Saya yang harus bertanggung jawab sebagai seorang anak dan kakak, dan ingin membantu suami mencapai cita-cita bersama kami. Itu yang jadi reminder saya kalau lagi galau dan jadi drama queen, hehe. Jadi dinikmati aja dan tetap bersyukur sama Allah, sambil belajar terus jadi Ibu terbaik untuk baby Inaya πŸ™‚

Mengutip artikel yang pernah saya baca : Whether you are a working mom or are able to be a stay at home mom, the impact you have on your children is real. And no matter how important your job outside, or hoe much you want to be with your friends, or how many articles you can write in your blog, OUR FAMILIES ARE WHAT IS MOST IMPORTANT. Because a mom can never be replaced. πŸ˜‰

 

Cheers, Shendiary.

Baked Cheesy Potato Beef

Dalam rangka menghabiskan sisa smoked beef dan quick melt cheese yang dipakai untuk bikin pizza sandwich sebelumnya, nyoba bikin cheesy-potato-beef panggang di microwave yang sudah entah berapa lama gak difungsikan. Voila, berhasil dan sukses habis sekejap untuk menu sarapan di weekend ceria πŸ™‚

Recipe1

Bahan :

  1. Kentang, disini saya pakai french fries yang sudah berbumbu
  2. Keju mozarella
  3. Keju cheddar / quick melt cheddar
  4. Mayonaise
  5. Smoked beef
  6. Daun bawang
  7. Oregano
  8. Lada bubuk, garam

How to :

  1. Goreng kentang dan smoked beef terlebih dulu
  2. Susun di wadah yang tahan microwave, kentang di paling dasar
  3. Kemudian ditambah smoked beef dan keju mozarella
  4. Tambahkan lada bubuk dan sedikit garam, daun oregano, serta mayonaise agar lebih yummy
  5. Tumpuk lagi dengan kentang dan smoked beef, di paling atas taburi dengan daun bawang dan keju cheddar
  6. Panggang di microwave +- 10 menit
  7. Siap disantap! Gampang kan? πŸ™‚

Cheers, Shendiary

Eggy Bread Pizza Sandwich

Pertama kali lihat resepnya dari facebooknya Proper Tasty, dan akhirnya sempet nyobain weekend kemarin untuk sarapan. Very simple yet so delicious. Yeay, worth to try. πŸ™‚

image1

Bahan :

  1. Roti tawar
  2. Pepperoni / smoked beef
  3. Keju mozzarela, atau saya pakai Kraft quick melt cheddar
  4. Oregano
  5. Lada/merica bubuk
  6. Garam
  7. Saus tomat dan saus sambal
  8. Telur

How to :

  1. Roti tawar diisi dengan pepperoni / smoked beef dan parutan besar keju mozarella.
  2. Siapkan di piring terpisah 2 butir telur, saus tomat dan saus sambal secukupnya, oregano (saya pakai 3 sendok makan), lada bubuk dan sedikit garam. Kocok dan aduk rata bahan tsb.
  3. Celupkan roti tawar ke dalam bahan tadi agar semua sisinya terkena bumbu.
  4. Bakar di fry pan dengan sedikit mentega.
  5. Yummy, siap dihidangkan πŸ™‚ Pastikan kejunya sudah melted agar lebih mantap ketika diicip.
  6. Selamat mencobaa..

 

Cheers, Shendiary.