shen(diary)

Breastfeeding Journey (Part 3)

Weekend kemarin saya menurunkan stok ASIP terakhir saya dari freezer dan beberes packing perintilan pompa ASI utk masuk kembali ke dus-nya. Semenjak puasa Ramadhan kemarin memang produksi ASI saya menurun drastis, sebelumnya masih dapet 100ml per hari kalau pumping, menurun sd 10ml hiks cuma membasahi pantat botol. Karena Inaya udah 19 bulan waktu itu, saya dan si mas sepakat let it go aja.. saya tetap beribadah puasa, makan minum banyak biar malamnya Inaya bisa nenen, tapi siangnya dari stok asip beku dan mulai ditambah susu formula..
Sedih sih, karena niatnya sy kepengen ASI eksklusif sampai 2 thn. Tapi ya saya ga boleh egois, kasian Inaya malah kalau ga minum susu πŸ™‚

Sebenernya udah ikhlas, alhamdulillah Inaya juga cocok dengan sufor yg saya pilih, seminggu adaptasi dan ga ada diare. Kalau malam tetap nenen tapinya mgkn cari kenyamanan.. tapi ini drama kembali muncul pas beberes si breastpump. Tiba2 keingat memori pumping 20 bulan ini, all the ups and downs.. perjuangan pumping di kantor, even di mobil, travel, dan kereta, pumping sendirian di barak tentara, di dipo lokomotif di sumatera sana, di spa hotel pas training etc etc.. I would not forget all the beautiful memory, termasuk dan especially ketika Inaya ada di dekapan saya ketika latch on langsung.. (dan gak kerasa air mata pun menetes hiks hiks) #dramaemakemak

Mungkin ini sudah waktunya.. anak mama udah mau 2 tahun, udah gede :’) semoga menjadi anak yang sehat dan pintar ya nduuk.

Thanks to Spectra sudah menemano pagi siang malam selama 20 bulan ini, until we meet again!

(Breastpump spectra recommended lho buibuu)

Cheers,
Shendi

Reminder Sore

“Besok kita jadi bukber ya, di tempat yg kemarin udah aku reserved”

Aku menutup aplikasi line setelah memastikan teman segrup mengiyakan. Beralih ke aplikasi kalender: besok bukber jurusan, lusa bukber unit, weekend bukber sma. Melewati tengah ramadhan, ajakan bukber masih saja padat. Sebelum pada pulang kampung katanya.

Namun malang, ternyata aku yang lebih dulu ‘pulang’.

Bukber hari itu ditiadakan.
Teman-temanku berombong datang ke rumahku. Teman dekatku menangis, yang lain matanya sembab.

Lalu apa?

Semua grup line yang aku ikuti berisikan ribuan ucapan belangsukawa terindah.
Post berisikan wajahku dgn caption kenangan terbaik ramai memenuhi instagram.
Oh belum lagi ratusan notifikasi ucapan kangen dan tidak percaya aku telah tiada yang membludak di kolom komentar instagramku.
Dan papan bunga dengan namaku yang berdiri di depan gerbang kampus tercinta.

Lihat, begitu banyak orang yang mencintaiku. Tidak sia-sia aku sering menghabiskan waktu bonding dengan mereka, bukan?

I wish I could say that.

Namun kehidupan akhirat nyatanya tidak seindah itu.

Ucapan belasungkawa, post instagram, serta komentar kangen mereka di media tidak cukup kuat untuk menembus ke bawah tanah ini. Aku bahkan tidak tahu menahu itu ada.

Ratusan teman dan rekan di kampus katanya.
Aku di gelapnya kubur menunggu cahaya doa dari mereka-mereka yang lama kuhabiskan waktu dengannya.
Namun berapalah titik cahaya yang datang langsung dari doa di atas sajadah, bukan di atas keyboard?
Mungkin hitungan jari. Atau kurang.

Kemana kalian?
Bukankah kita sudah terlampau sering melakukan bonding bersama?
Bercanda dan terbahak bareng, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, kegiatan ini kegiatan itu, dan kau juga sudah menyebutku sebagai keluarga, ingat?

Atau memang selalu dan hanya akan sebatas ini sejak dulu.
Yang hidup di dunia akan tetap berkutat dengan dunianya.
Sedikit demi sedikit kenangan tentangku akan lenyap dihanyutkan kesibukan dunia.
Sebulan, setahun, lalu habis.

Dan tinggallah aku yang kan pergi mempertanggungjawabkan diri di akhirat.
Sendiri.

Kalaulah dahulu diperlihatkan seintip kehidupan akhirat yang nyata,

Pastilah aku akan memilih bonding dengan Sang Pencipta dibandingkan dengan makhluk-Nya.
Akan menggantikan belasan bukber yang sering tercampur bumbu ghibah itu dengan dzikir petang atau berkumpul dengan keluarga.
Akan menggantikan tidur sehabis subuh itu dengan dzikir pagi.
Akan menggantikan waktu marathon film itu dengan marathon hafalan Al-Quran.
Dan tentu tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini dengan amalan sekedarnya.

Bahkan tanpa diperlihatkan pun sebenarnya aku tahu, namun sering berpura lupa dan acuh mengabaikannya.

Hingga waktuku habis dan datanglah hari penyesalan ini.

Apalah artinya banyak tertawa bersama makhluk, jika menjadikan kita lupa untuk menangis kepada-Nya

β€œAndai kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

#selfreminder
#ceritapendek

EPILOG:
Kudengar bukber di hari ‘kepulanganku’ itu diundur menjadi minggu depan. Tak ada yang berbeda, hanya berkurang satu kursi dari meja. Ternyata tanpaku pun mereka tetap bisa ramai dan banyak tertawa.

Dikirimin ini di group kantor sore – sore. Merinding. Mata berair. Betapa yang ditulis disini dekat banget dengan kehidupan sehari-hari saya. Di tambah lagi kalau nonton TV akhir-akhir ini banyak berita duka, sakit jantung, cancer dsb. Buka instagram banyak postingan bayi-bayi di NICU. Very good reminder untuk saya untuk memperbaiki diri menuju akhirat, tidak terlalu lena dengan kesibukan duniawi.

Kurangilah kesenanganmu pada dunia, agar berkurang kedukaanmu di akhirat.Β  (Imam Syafi’i)

Semoga Ramadhan ini menjadi momentum kita untuk jadi pribadi yang lebih baik, amien.

 

Regards, Shendiary

Things that change after having baby

Once you have a baby, your life will never be the same again. πŸ™‚ Bener. Beneeer bangeeet. Ketika punya anak, hidup pastinya lebih berwarna, tapi drama, konfliknya pun berbeda. Kadang pas lagi berdua sama si mas, kita suka ngobrol-ngobrol kontemplasi kebiasaan, pemikiran kita before and after having a baby. Here they are..

  1. Weekend Activities : Kalau dulu mikir mau nonton apa, mau cobain cafe baru apa, atau mau bikin diy project apa di rumah. Sekarang pastinya nyari tempat atau aktifitas yang baby friendly, yang ada mainannya atau bisa interaksi banyak sama anak kecil lainnya, resto yang ada baby chair, makanan finger food, taman yang bersih, etc etc.
  2. No gadget at home : Berhubung Inaya sudah pintar nge-slide milih-milih video youtube dan susah diberhentikannya, sekarang saya dan si mas ga pernah buka handphone di depan Inaya alias ngumpet-ngumpet. Jadi kalau sudah di rumah, whatsapp pasti delay dibalasnya.. Harap maklum ya, demi melepaskan ketergantungan anak dengan gadget πŸ˜‰
  3. Si ayah yang gamer sekarang lebih sedikit mainnya yeayy! Makin gede Inaya, bobonya sudah tidak mau digendong lagi, cukup dikelonin saja di tempat tidur. Tapi uniknya, selalu mau lengkap ada Ayah dan Mamanya, posisinya pun harus sama, Ayah di sebelah kiri dan Mama di sebelah kanan Inaya. Di samping Inaya harus ada selimut bulu. Haha se-spesifik itu. Kalau sudah ngantuk sekitar jam 8 dan sudah nenen, Inaya pasti manggil “Ayah, bobo.. “ sambil nunjuk ke bantal Ayah kaya nyuruh Ayahnya tiduran disana :)) Dan seringnya, kami ketiduran juga saat ngelonin Inaya haha.. jadi tidur cepat. Ayah pun gak nge-dota lagi horeee. Ini yang sudah Mama tunggu dari 10 tahun yg lalu jaman pacaran dulu, Alhamdulillah ya Allah πŸ™‚
  4. More appreciate on little things.. Bahagianya kami sehari-hari lebih kalau Inaya pintar makan cepat habisnya, pas ditinggal gak pake drama, diminta tunggu dan dinasehati jawab iya (walaupun ga tau iya nya ngerti apa gak ya hehe), bisa ngejawab nama ayah mamanya.. atau bisa pulang on time dari kantor jadi bisa main banyak dulu sama Inaya.
  5. Silence? Whats that?” Jangan pernah berekspektasi rumah sepi hening dan selalu rapi hihi.
  6. All you want is me time, or dating time. But you miss your child as soon as you have it! haha.

Who’s with us? πŸ˜€

Cheers, Shendi

Early Bird Gets The Worm

Dari kecil, saya dididik oleh Mama Papa saya untuk jadi anak pagi, bangun pagi sekitar subuh dan tidur early sekitar jam 9. Mereka selalu punya prinsip “Early bird gets the worm”, dengan bangun lebih pagi kita bisa subuhan on time, bisa punya waktu siap2 lebih lama (Mama Papa saya didikan tentara soalnya jadi semua serba disiplin hehe), bisa sarapan bareng di meja makan. Jadilah sampai gede saya jadi anak pagi, waktu jaman kuliah dulu ngerjain tugas, atau lembur2 masa kelam dulu sampai jam 3 pagi, saya paling lemah harus di dopping dulu pake secangkir kopi susu hehe. Tapi pas sudah besar gini baru paham juga memang bagus lifestyle seperti itu, karena organ2 vital kita itu memang butuh kita istirahat malam yg cukup dan biasanya less stress.

Nah, “secara gak sadar” ternyata saya (dan suami pastinya) mendidik Inaya seperti itu. Apalagi setelah masuk 6 bulan dimana Inaya mulai fase MPASI, saya membiasakan Inaya untuk bangun pagi. Sebenarnya sih mungkin ini keegoisan mamanya yang pengen bisa mandiin dan nyuapin Inaya tiap pagi sebelum berangkat ke kantor hehe. Kadang saya berpikir, kejam gak ya saya, egois gak ya saya.. tapi setelah 8 bulan berjalan (Inaya sekarang udah 14 bulan) dan belajar2 parenting online dan konsultasi ke DSA, justru memang lebih banyak manfaat nya dibanding mudharatnya. Alhamdulillah πŸ™‚

Jadwal pagi Inaya kurang lebih sbb :

  1. Nenen pagi 04.00,
  2. Bangun pagi 04.30 – 05.00,
  3. Main sama mama 05.00- 05.45 (sembari si mama dan mbak kolaborasi masak makanan Inaya),
  4. Mulai sarapan pagi 05.45 (Kalau lg lahap 20-30 menit selesai, tapi kalau lagi GTM bisa 1 jam huhu),
  5. Mandi pagi 06.45- 07.00 ,
  6. Main sama ayah 07.00 – 07.20,
  7. 07.30 Ayah mama berangkat kantor, Inaya salim dan dadah2 (Alhamdulillah kami tinggal di Bandung jadi masih bisa berangkat jam segini)
  8. Untuk tidur malam sendiri biasanya Inaya sudah bobo jam 7.30-8pm

Kenapa mamanya ngotot mau mandiin dan nyuapin sarapan Inaya sendiri? Karena itulah bonding and quality time sama Inaya yang sayang banget dilewatkan. Dengan mandiin anak kita bisa periksa badannya juga, kali2 ada memar atau bekas nyamuk atau bekas garukan yang tersembunyi jadi bisa diobatin. Lagian waktu mandi adalah salah satu waktu main terbaik anak, kayanya semua anak happy ketemu air hihi. Dengan nyuapin dan masakin anak kita tahu apa yang dia suka dan gak suka, gizi yang masuk ke anak kita, dan susahnya nyuapin atau ngebiasain anak BLW dengan benar πŸ˜€ Ini sih highlightnya.. drama masa kini : anak susah makan haha. Karena saya juga kerja, siang dan sore kan si mbak yang nyuapin, moso’ pagi juga si mbak, saya gak rela hehe gitu sih sebenarnya alasannya.

Tapi ternyata ada manfaat baiknya yang tersembunyi lho :

  • Bermain dengan anak di pagi hari itu bagus karena mereka masih fresh, jadi edukasi yg diselipkan bisa gampang masuk.
  • Habit early riser ini terbawa sampai besar, jadi nanti pas anak2 sudah sekolah gak drama pagi ngebanguninnya.
  • Perkembangan otak anak itu malam hari ketika dia tidur, jadi jangan sampai membiasakan anak untuk begadangan.
  • Buat ibu bekerja, bonding dan quality time dgn anak harus dijaga, jangan sampai berangkat anak masih bobo dan pulang anak juga udah bobo.
  • Beberapa link bagus buat belajar : dr Tiwi

 

Sekian pengalaman saya,

Happy motherhood! πŸ™‚

Regards, Shendiary

 

 

 

 

Bersyukur

There’s always something to be grateful for everyday.. Dari kecil sampai sekarang, mama saya selalu mengingatkan bahwa saya harus terus bersyukur sm apa yang saya punya. Kata mama, jangan terlalu lihat ke atas, capek kita ‘ndanga’, coba deh sering2 lihat ke bawah masih banyak yg tidak seberuntung kamu, jadi kamu tetap bersyukur.

Bener banget. Belakangan ini saya ngerasain hal itu banget banget.

Contohnya seminggu kmrn ini sy ditugaskan untuk ikut training management dev program, yah intinya managerial dan leadership skill. Ikut training sih saya seneng bgt krn memang dasarnya saya seneng belajar (hasrat sekolah lg memang sbnrnya pengen hehe), tapi ini harus nginep di training center pdhl sama2 di Bandung. Jadilah galau tidak keruan krn harus ninggalin Inaya. (Dan Alhamdulillah survived, tributes to my lovely supporting system : mas suami, mama, dan mbak). 

Selama training saya ketemu dgn rekan2 di division yg berbeda.. beda background, beda suku, beda kerjaan dan tantangan, beda umur. Tapi ini yang bikin diskusi2 selama training makin hidup. Saya jd makin merasa ‘kecil’ krn sesungguhnya dunia kantor tak sesempit yg selama ini saya hadapi. Bersyukur banget bs ketemu mereka, saya bisa belajar hal2 baru, mengerti sesuatu dr sudut pandang yang berbeda.

Di sisi lain, saya ketemu dgn emak emak muda lain yg jauh lebih strong dari saya. Mereka tinggal beda kota dgn anaknya yg dijaga sm neneknya, pulang sekian minggu sekali, kirim ASI, etc. Nah apalah saya ini 6 hari ga ketemu aja udah kaya dunia runtuh. Saya juga harus belajar strong kaya mereka πŸ˜‰ mendengar cerita ini saya juga bersyukur banget atas nikmat Allah, jalan Allah sehingga saya bisa berkumpul dgn mas suami dan Inaya. Gak pernah saya menyesal resign, ikut pindah ke Bandung setelah menikah. Semua ada rezekinya πŸ™‚

Apa yang kita kira baik, mungkin belum tentu baik di mata Allah. Dan apa yang kita benci mungkin itu yang terbaik menurut Allah. Jadi bersyukurlah atas kita dan apa yang kita punya skrg, karena itu pasti versi yg terbaik. Amien πŸ™‚

Cheers,

Shendiary

Motherhood and Judgement

Vaginal Birth vs Sectio Caesar. Breastmilk vs Sufor. Working Mom vs Stay at Home Mom. Spoon Feeding vs Baby Led Weaning. Etc etc…..

Gosh, I don’t know why but seems motherhood invites judgement. Whether it’s about how you just gave birth, what you’re feeding the baby,or how you and husband plan on raising your kids, there will be someone judging.

Mungkin bertambahnya pengetahuan di dunia kedokteran, ilmu-ilmu psikologi anak, kelas-kelas motherhood, dan posting-postingan media sosial membuat ibu-ibu (seperti saya salah satunya) jadi makin semangat belajar yg terbaik untuk anak, tapi sisi negatifnya jadi men-judge ibu lain yang tidak sepaham dengan kita. But hey, sesuatu yang ‘works’ or ‘fit’ di kita belum tentu cocok di mereka kan? πŸ™‚ Dan pastinya ibu-ibu tsb punya alasan sendiri memilih sesuatu untuk keluarganya, dan pastinya pilihan yang terbaik menurut mereka. Atau mungkin memang ibu-ibu itu super sensitif ya saking perasa-nya, jadi mungkin komen dikit dari orang aja sudah dianggep judgement (ini yang suami saya suka bilang ke saya sih haha).

And almost of the time, what we judge is that what we have not experienced ourselves. Yang suka sinis kalau melihat anak cranky nangis di mall atau tempat umum biasanya belum punya anak dan ngerasain kalau anaknya lagi tantrum. Yang suka ngejudge ibu rumah tangga belum ngerasain capeknya mengurus anak 24/7. Yang suka ngeduge ibu working mom belum ngerasain susahnya multi tasking dan membagi prioritas. Yang suka ngejudge anak yang tidak ASI = anak sapi, mungkin dia gak tahu kalau ibunya sudah berusaha mati-matian tapi belum dikasih rezeki ASI berlimpah. Atau yang suka ngejudge pasangan yang belum punya anak masih suka ngejar karir jadi menunda dkk, mereka mungkin gak tahu kalau pasangan tsb sudah usaha ini – itu tapi masih belum dikasih rezeki anak.

I think we all agree that being a mother is the most beautiful gift from Allah with a huge responsibility and challenges. Motherhood is hard. And we as a mother need to be tough. Alangkah indahnya jika sesama Ibu saling sharing dan support. Women empowers women. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang suka men-judge tanpa alasan dan semoga kita bisa fokus yang terbaik menurut kita dan keluarga tanpa terusik omongan-omongan yang gak penting πŸ™‚

Kita bisa!

[NB : postingan ini ditulis setelah ditanya “kok baby N kurusan sekarang? sudah gak menyusui lagi mba?”………. Dengan tarik napas dan elus dada, mungkin beliau gak tahu usaha saya menyusui dan pumping dan Alhamdulillah masih cukup untuk bekal baby N. Mungkin beliau gak tahu baby N banyak makannya tapi gak gemuk2, ini mamanya juga bingung πŸ˜€ ]

And.. just let the ball drop

Suasana di kantor lagi kurang kondusif.. Some colleagues has been moved to another division/company, tapi gak ada pengganti, box nya tetap kosong, sementara volume kerjaan tetap banyak. Ketika mulai stress, keinget sama pesan dari boss di kantor lama.. “Sometimes you need to let the ball drop, to get the attention and see the impact” πŸ˜€ Yup.. Kadang kita terlalu sibuk mencoba menahan dan menangkap bola sekuat tenaga, while sebenarnya itu di luar kapasitas kita. Kadang orang lain jadi tidak sadar kalau ada keadaan genting karena kita selalu ‘mengamankan’. So.. sekarang saya mau belajar jujur aja, tetap berusaha sebaik mungkin, tapi gak akan ngoyo.

Because sh** happens, and life goes on! πŸ˜€

#curhatanemak2workingmom

Selamat Lebaran!

Alhamdulillah dikasih Allah kesempatan untuk bertemu lagi dengan hari raya Idul Fitri dengan orang-orang terkasih πŸ™‚

WhatsApp-Image-20160712

Ramadhan dan Lebaran kali ini penuh cerita untuk saya.. Tentunya karena kehadiran si bayi cantik, Inaya, jadi lebih ramai dan riweuh hihi. Ramadhan ini pertama kali saya gak ikutan puasa, sebelumnya pas hamil kuat puasa, tapi kali ini pas menyusui saya ga bisa egois karena ASI-nya jadi sedikit. Jadi sebelum Ramadhan, kegalauan hadir karena saya harus ikut pelatihan Basic Development Program alias pelatihan kedisiplinan militer di Pusat Pendidikannya TNI, yang wajib untuk BUMN. Pelatihan ini 10 hari dan DIKARANTINA alias gak bisa keluar bahkan gak bisa pegang hp. 10 hari gak ketemu Inaya itu bikin super duper sedih banget. Dan setelah pelatihan ini, karena mungkin fisik dan pikiran capek, dan gak latch on langsung, ASI saya jadi sedikit.. Dari awal pelatihan, suami (yang terpaksa jadi kurir ASIP tiap hari) ambil ASIP bisa 8 botol sehari, sampai akhir cuma bisa 3 botol saja yang dibawa pulang.. Makanya tahun ini saya gak puasa dulu agar masih bisa makan minum berusaha mengembalikan supply ASI, Alhamdulillah sekarang supply and demand nya sudah balance lagi, walaupun stock di freezer masih sedikit. Semangat mama Shendiii!

Ramadhan kali ini juga InshaAllah saya mantap untuk berhijab, bertepatan dengan ulang tahun saya ke 27. Doakan semoga selalu istiqomah, amieen..

Lebaran kali ini pertama kali mudik ke Jakarta sudah bawa momongan, jadi lebih seru, lebih riweuh juga bawaannya karena Inaya sudah MPASI jadi bawa blender, perlengkapan makan, snack, dan bahan makanan. Waktu lebaranan di rumah mama, rumah mertua, rumah eyang juga lebih seru ada mainan baru hihi, semuanya rebutan gendong Inaya sampe2 bingung sendiri dan nangis hehe. Solat Ied pertama Inaya Alhamdulillah lancar.. anteng aja duduk sambil mainan dan narik2 mukena Mama, abis itu ngadem di ruangan masjid yang ber-AC sambil nenen πŸ™‚

Lebaran tahun ini juga pertama kali ngerasain ditinggal mbak ART mudik. Kalau untuk kerjaan rumah sih gak terlalu galau ya, karena sebelumnya juga semua saya dan mas kerjakan sendiri, gak perfeksionis juga, sebisanya saja. Tapi ini galau-nya karena saya gak bisa cuti karena kerja di public transport yang pasti lagi ramai2nya waktu mudik Lebaran ini, which means selama si mbak mudik, Inaya di rumah hanya sama Ayahnya saja. Kebayang kasihan Ayah-nya karena Inaya agak picky juga sama orang, gak semudah itu mau digendong, disuapin sama mbak infal atau sama eyangnya.. Tapi ini sudah hari ketiga, and so far we survived! Semangat Ayah, semangat Inayaa.. maafkan Mama harus ngantor T.T

Anyway, Eid Mubarak to all of you πŸ™‚ Semoga ibadah kita diterima Allah dan kembali ke fitrah.. Mohon maaf lahir dan bathin..

Cheers, Shendiary.

 

Finally S1 ASI Ekslusif!

Awal bulan Mei ini Inaya sudah masuk 6 bulan, Alhamdulillah diberi kesehatan danΒ  lulus S1 ASI eksklusif πŸ™‚ Rasanya lega, dengan segala perjuangan kejar-kejaran stok ASIP selama kerja ini berhasil kasih ASIX untuk baby Inaya.. Tapi PR ke depan masih super banyak, semoga Allah memudahkan hingga S2, S3 2 tahun ASIX. Amien.

Beberapa highlight selama perjalanan menyusui 6 bulan ini..

  • Latch-on moments

Ketika Inaya menyusu latch on langsung, saya selalu merasa happy bisa memberikan makanan titipan Allah ini langsung kepadanya. Dengan bunyi ‘glek-glek’ saat menghisap atau senyuman manis setelah kenyang, rasanya gak bisa diungkapkan. This is trully one of most beautiful moments in my life.. hehe. Dan memang saya merasa, semakin banyak Inaya latch-on langsung menyusu pada saya, volume produksi ASI pun meningkat. Kalau teorinya memang karena latch on dan isapan bayi merangsang hormon2 yang ada di aerola payudara Ibu untuk memproduksi ASI lebih banyak.

  • Invest(ASI)

Sebagai working mom, breastpump merupakan satu senjata penting untuk tetap memasok bekal ASIP. Kenapa invest(asi), karena memang breastpump dan kawan-kawannya gak murah dan saya percaya hasilnya pun pasti lebih berkali-kali lipat untuk baby kita πŸ™‚ Saya sendiri memilih menggunakan electric breastpump agar lebih praktis dan gak capek pumping ketika di kantor. Plus minus sih ya, karena electric, kecepatannya konstan dan mungkin gak begitu maksimal saat-akhir payudara mau kosong, jadi tetap harus dibantu ditekan-tekan. Sama gak boleh kelupaan bawa charger juga in case baterainya habis. Tapi saya kebetulan belinya merk Spectra M1 dimana sudah sepaket bisa electric dan manual, so kalau urgent case, tetap bisa pumping pake manual. Nah selain itu, salah satu investasi lainnya adalah kami membeli kulkas 2 pintu agar lebih besar menampung ASIP, lebih lama hingga 2 bulan kalau di dalam freezer dan yang paling penting gak ada bunga es. Jadi menyesal juga kenapa di awal nikah gak pikir panjang, malah beli kulkas 1 pintu.. Lesson learned!

  • Ruang menyusui

Beruntung lah para working mom yang di tempat kerjanya difasilitasi nursing room atau lactation room.. Kantor saya yg sekarang belum ada ruang menyusui khusus 😦 (kantor yang dulu nursery room nya oke banget, tapi waktu itu saya belum nikah jadi gak sempat merasakan haha, gagal move on), sehingga saya biasanya gerilya pumping di ruangan VP yg lagi kosong atau seringnya di masjid. Dan itu ga enak. Privacy yang pasti jauh berkurang, kebersihan jg kurang terjamin, kenyamanan juga begitu. Padahal itu semua sangat mendukung volume ASIP yg dihasilkan juga lho. Tapi ya semua ada hikmahnya.. Semenjak ada kebutuhan pumping, saya jadi hampir tiap hari jamaah-an di masjid dan habis itu pumping disana. Inaya menuntun saya untuk beribadah lebih :’) Sekarang saya sedang mengajukan permohonan lactation room di kantorpusat, karena memang ini ada di UU Ketenagakerjaan dan di Permenkes juga. Semoga cepat terwujud, bisa membantu para busui-busui lain, amien.

  • Support dari sekitar

Salah satu keberhasilan ASIX ya ga lain ga bukan adalah support dari sekitar, baik suami, ortu, mertua, boss, kolega kantor, teman, semuanya.. Sejak hamil, pelan2 saya mengedukasi suami dan mama saya tentang pentingnya ASI, tentang komitmen saya sebisa mungkin memberikan ASI Eksklusif untuk Inaya.. Alhamdulillah mereka mengerti dan sangat mendukung. Kalau saya beli buku atau nonton liputan tentang ASI, pasti sy libatkan, termasuk si mbak ART juga. Contohnya, saya wanti-wanti sejak awal, kalau nanti ASIΒ  sedikit setelah melahirkan jangan langsung diberi sufor (bukan anti sufor ya, tapi saya gak mau menyerah karena saya percaya ASI yg terbaik). Challenge lainnya waktu mertua mau memberikan air putih atau pisang kerok ketika Inaya usia 4 bulan karena dulu si mas aman-aman aja diberikan mpasi usia segitu. Saya dan suami berusaha menjelaskan bahwa Inaya sedang eksklusif diberi ASI dan baru perkenalan makanan di usia 6 bulan sesuai hasil research WHO mengenai kesiapan pencernaan bayi and so on. Ketika baru kembali kerja saya juga langsung menghadap boss untuk meminta izin tiap hari sekitar 30menit utk pumping. Kalau sedang rapat yg kadang waktunya gak jelas kapan selesainya, saya jg selalu bawa tas perlengkapan ASI dan meminta izin untuk pumping jika ada waktu break. Yah intinya jangan malu untuk minta support ke lingkungan sekitar, kadang mereka gak peka atau gak concern tentang menyusui, jadi harus dikasih edukasi dan pengertian juga πŸ™‚

Semoga Allah mencukupkan ASI saya untuk baby Inaya dan semoga solid food experience nya juga lancar.. Mamanya excited banget untuk siap2in dan masakin mpasi hehe.

Salam semangat!

Shendiary

Dear Inaya


Dear Inaya,

Mungkin kamu masih terlalu kecil untuk mengerti betapa besar arti kehadiranmu untuk Ayah dan Mama, masih terlalu polos untuk mengerti betapa berwarnanya hidup kami dengan senyumanmu, betapa bersyukurnya kami dapat memelukmu..

Terima kasih..

Dari kamu, kami belajar tentang mencintai dengan ikhlas, belajar untuk mendengar dan mengerti dengan hati, belajar untuk lebih sabar, belajar untuk lebih bijak menentukan pilihan dan prioritas, belajar untuk selalu berjuang memberikan yang terbaik untukmu, belajar untuk selalu tenang dalam terpaan ombak..

Doa kami selalu terpanjat agar kamu selalu dalam perlindungan-Nya, malaikat kecilku :’)