Kemarin di angkot M-26 (Kampung Melayu- Bekasi), setelah berkunjung ke kosan temen di Taman Anggrek, gw duduk sebelahan dengan seorang kakek2 kira2 umur 80 tahunan, bongkok, kurus, keriput, dan sudah ompong. Gw agak kasihan melihatnya pergi naik angkot siang2 panas2 sendirian, ga ada anak/cucu yang menemani. Tapi ternyata kakek ini masih punya semangat yang tinggi dan jadi ngedukung fisiknya.. Kenapa gw bilang gitu? karena sewaktu dia ngobrol sama bapak2 cukup tua di dalam angkot itu juga, dia banyak cerita ttg dirinya, cara memandang hidup, dan gimana caranya dia bertahan hidup.. Ternyata kakek2 itu dulunya pejuang (angkatan) yang ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang.. Tapi akhirnya dia keluar (istilahnya “kembali ke masyarakat”) tahun 1950 karena dia merasa ingin hidup lebih bebas dan tidak sangat terikat.. Rumah dia di Cempaka Putih dan sekarang dia lagi mau berkunjung ke rumah besan di kalimalang. Dia mau silaturahmi, dan tidak minta ditemani karena tidak mau merepotkan dan masi bersemangat utk terus sehat. Cerita pun berlanjut, tapi ada satu bagian yang paling gw tangkep :
Jakarta itu lautan madu.. Orang yang tekun dan terampil pasti bisa maju dan mendapat manisnya.. Tapi yang tidak, pasti akan tenggelam dalam kentalnya madu..
–Kakek2 pejuang yang masih bersemangat tinggi
Deg, gw jadi berpikir. Bener kata kakek ini.. dan.. nah lo, keterampilan apa yang gw punya skrg??
Ayo temen2 generasi muda…smangaaaaat!!!!! kita harus bisa mengambil manisnya madu dan berjuang utk tidak tenggelam di dalamnya..
SMANGAT!



